akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur lelap Sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mandalawangi kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta
(hari pun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang kita tidak mengerti seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru
Gara-gara tidak mengikuti kemauannya untuk masuk ke arena bermain pada mall yang kami kunjungi, si kecil ngambek (marah) tidak mau makan ikut siang. Bukan cuma itu, saat kami sekeluarga duduk mengelilingi sebuah meja makan di restaurant cepat saji, dia malah memisahkan diri duduk di meja lain dengan tangan dilipat di atas meja dan bibir mungilnya maju beberapa centimeter ke depan. Saya mencoba membujuknya dengan melambaikan tangan memanggilnya untuk duduk dikursi sebelah saya yang sengaja dikosongkan tapi dia hanya menggelengkan kepala dengan mata dan raut wajah yang masih terlihat marah. Saya kemudian pura-pura marah juga dengan mengangkat bahu dan berusaha tidak lagi memperhatikan dia dengan bercanda bersama kakak-kakaknya. Seringkali saya meliriknya dan melihat dia juga mencuri pandang ke arah kami dengan kesal. Terlihat serombongan tamu memasuki restaurant dan melangkah menuju meja yang diduduki si kecil. Saya tersenyum dan yakin ini kesempatan baik bagi saya membujuk si kecil namun ternyata lambaian tangan saya diacuhkannya, dia melangkah ke meja kosong lain di samping meja kami masih dengan wajah kesalnya. Kali ini saya mengalah dan melangkah mendekatinya kemudian duduk berjongkok di hadapannya menatap wajahnya. Terlihat ada sedikit air di sudut matanya yang pasti dengan usaha keras ditahankannya agar tidak jatuh…saya langsung merasa iba dan menyesal tidak mendekatinya sedari tadi. Kadang tanpa disadari kekerasan hati saya pun menahan saya untuk tidak bertindak lebih bijak walau semua itu dimaksudkan untuk mendidiknya agar jadi anak shaleh. Selaku orang tua kita tentu tidak selalu harus menuruti kehendak anak dan memenuhi semua apa-apa yang dimintanya, demikian pendapat saya. Tapi bagaimana cara kita menyikapi tentu masing-masing berbeda. “ke sana yuk, kita makan bareng sama teteh dan mama. Tuh makanannya udah datang. Ade suka sop buntut kan? Di sini enak lho..” saya mencoba membujuk sambil memegang tangannya. Dia menolak sentuhan saya dan makin memanjangkan bibirnya seolah menandakan dia sangat marah. Hal itu justru membuat saya tersenyum, wajahnya menjadi sangat lucu. Saya ingin tertawa namun jika saya sampai tertawa di depannya saat ini, bisa dipastikan dia akan bertambah marah. “Ade tau ga kalo mama sayang banget sama ade? Mama suka sedih kalo ade ga mau makan…. ” Sebisa mungkin saya perlihatkan wajah sedih untuk mengetuk nurani anak-anaknya. Sentuhan saya tidak ditolaknya lagi namun masih terasa dia mengeraskan badannya dan kaku. Saya langsung memeluknya dan menggendongnya menuju kursi. Saya putuskan untuk memangkunya dan membiarkan kursi disebelah saya kosong. Saya kembali becanda dengan kakaknya dan sesekali menciumi kepala si kecil sambil memeluknya. Saya bisa melihat dengan lebih jelas bahwa matanya semakin berkaca-kaca. Saya memeluknya dan membisikan kata-kata sayang ditelinganya, membisikan permohonan maaf karena sudah mengecewakannya. Runtuh sudah pertahanannya, airmata meleleh di pipinya dan dia memeluk leher saya kuat-kuat sambil berbisik… “Maapin ade.. maapin ade..” Begitulah selalu. Setiap kali saya berkeras dengan keinginan saya dan dia berkeras dengan keinginannya, seringkali kami malah semakin marah satu sama lain dan saling menghindari. Namun ketika saya sudah bisa menguasai keadaan, mengontrol emosi saya dan berpikir lebih jernih, saya biasanya memilih jalan lunak dan selalu berhasil. Dalam hidup, seringkali kita memang harus mengalahkan ego diri untuk bisa mencapai hasil terbaik dan mencapai kata mufakat. Sebagai orang tua kita merasa memiliki kuasa atas anak-anak kita, sebagai pejabat kita merasa memiliki kuasa atas bawahan kita, sebagai suami kita merasa memiliki kuasa lebih tinggi dibanding isteri, begitu seterusnya. Namun terlepas dari apa pun yang kita sandang pada diri kita, sebenarnya ego diri kita lah yang harus kita kuasai. Bukan hal-hal diluar diri kita yang sulit kita kendalikan. Apapun yang terjadi di lingkungan kita, situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita, tetaplah kita harus bisa menguasai diri kita terlebih dahulu. Setelah kita bisa mengendalikan diri dan menjernih hati serta pikiran, insyaAllah apapun yang ada bisa kita terima dengan baik walaupun itu mungkin tidak sesuai dengan harapan kita. Dan hidup akan menjadi lebih mudah kita jalani walau rintangan pasti akan selalu ada menghadang.
Senangkan Orang Tua Semasa Hidup! Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu Mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk Belanja keperluan sehari-Hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun Lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 Orang bergiliran menjenguknya. Kami semua sudah berkeluarga Dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang Lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya Mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur. "Nggak usah. Lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu Diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah Mengalah Dan mau menginap bersama kami, namun 2 Hari kemudian dia minta diantar Balik. Ada-Ada saja alasannya. Suatu Hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan Sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain Dan Bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki Hari ketiga, IA mulai minta Pulang. Seperti biasa, Ada-Ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah. Tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. Akhir minggu ini saya akan Antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah Ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah." Katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah Berkali-kali pulang naik bus sendirian. "Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam Dan lalu Masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak Berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya Tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. Saya sedang Sibuk, sibuuukkkk!! !" balas saya terus keluar menghidupkan Mobil. Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat Mukanya. Di dalam Mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap Kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus Membisu. Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya Penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, bang.. Belikan tiket buat ayah," Katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin Untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah. Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah Dan minta ayah untuk bersiap. "Bus Berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap Agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya Kedalam tas Dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara Sepatah kata pun. Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit Dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya Memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke Mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti Dan teringat ayah Yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali IA pulang ke kampung, IA selalu Minta dibelikan kue itu. Tapi Hari itu ayah tidak minta apa pun. Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, Ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya Mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara. Dini Hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. "Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit Yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta Saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang Dan bertanya, "Ada apa, bang?" Saya hanya menggeleng-geleng Dan setelah agak lama baru bisa berkata, "Ayah sudah tiada!!" Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue Pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri Mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran. Hanya Allah yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya Mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian Dan ayah yang Sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan Seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum Meninggalkannya buat selama-lamanya. Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini. Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi. Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu. Don't find love, let love find you. That's why it's called falling in love, because you don't force yourself to fall, you just fall
Cinta Laki-laki Biasa MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari- hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. "Kamu pasti bercanda!" Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania! "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!" Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?" Nania terkesima. "Kenapa?" Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan. "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. "Tapi kenapa?" Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!" Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur dua puluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah. *** Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik- bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan- kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania." Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!" "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!" "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!" Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. " Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang." Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik. "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?" Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. *** Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! " Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak- kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. "Baru pembukaan satu." "Belum ada perubahan, Bu." "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan. "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit." Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi. Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu- dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. "Masih pembukaan dua, Pak!" Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. "Bang?" Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. "Dokter?" "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar." Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. "Pendarahan hebat." Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh- pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania. *** Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. "Nania, bangun, Cinta?" Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, "Nania, bangun, Cinta?" Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli. Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama. Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata- kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang disekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya dijalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. "Baik banget suaminya!" "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!" "Nania beruntung!" "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya." "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!" Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang- orang diluar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
By : Muhammad vheztaqwil (awil) Rabu 16 may 2007 Perjalanan dimulai dari stasiun senen, kami melakukan perjalanan yang tak terduga-duga karena perjalanan ini seharusnya beranggotakan lima orang namun sayang karena satu orang dari team kita tertinggal kereta. Pukul 2 siang kereta mulai jalan dari stasiun senen, namun aku sendiri menunggu distasiun jatinegara. Team ini beranggotakan Heni, Anton, Hanum dan aku sendiri Awil. Kamis 17 may 2007 Pukul 8 pagi kereta sudah masuk keStasiun Malang, kami langsung dijemput oleh mbak henny dan temannya disana. Kami pun langsung sarapan dan setelah itu ngacir ke terminal malang, setelah itu kami kepasar tumpang tempat biasa transit para pendaki untuk melanjutkan ke ranupane dengan menggunakan jeep atau truk. Dipasar tumoang kami membeli persedian yang belum lengkap, setelah itu kami pun pergi ke ranupane dengan menggunakan truk, karena pendaki yang akan ke ranupane banyak, lumayan ngurangin ongkos jalan karena ongkos dengan menggunakan truk jauh lebih murah dibandingkan dengan menggunakan truk. Ditengah perjalan kami berhenti di pos TNBTS (taman nasional bromo tengger semeru) untuk melakukan pendaftaran izin pendakian, setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali. Hari telah menunjukkan pukul 2 siang, truk pun langsung tancap gas menuju ranupane dengan melewati jalan-jalan yang sangat sempit yang hanya cukup untuk jalur satu mobil saja. Pukul 4 kami sampai diranupane, kami langsung melapor diri dipos ranger setempat, setelah selesai kamipun mengisi perut dengan makan sore diwarung nasi penduduk setempat. Pukul 5 kamipun memulai dengan membaca doa dan bergegas menuju pos ranukumbolo, pada saat itu gerimispun sudah menemani kami, menjelang maghrib kira-kira pukul 5 lewat 45 menit kamipun berhenti untuk menghidupkan senter dan menunaikan sholat maghrib. Pukul 6 kamipun meneruskan perjalanan menuju ranukumbolo, jongkok, menunduk, lompat itu sudah biasa kita jalani disepanjang perjalanan ini karena banyaknya pohon-pohon yang tumbang. Pukul 8 hujanpun mulai berhenti, kini diperjalanan kami ditemani oleh rembulan yang mulai menampakkan dirinya secara perlahan, diujung nan jauh disana terlihat secara samar puncak mahameru dengan megahnya. Pukul 9 kami sampai didanau cinta ranukumbolo, Anton dan Aku langsung mendirikan tenda, sedangkan Heni dan Hanum menyiapkan air sekedar untuk menghangatkan tubuh kami, setelah itu kami sudah tak jelas berada dimana lagi. Jumat 18 may 2007 Pukul setengah enam pagi aku bangun tuk sholat subuh, air didanau terasa sangat hangat mungkin karena suhu dipermukaan terlalu dingin ( 7 derajat celcius). Pukul 7 kami mulai memulai aktifitas dengan foto-foto alam sekitar, dan menyiapkan sarapan pagi. Pukul 10.30 kami melanjutkan perjalan kami menuju target selanjutnya yaitu pos kalimati, ditengah perjalan kami melewati tanjakan yang sangat terjal yaitu tanjakan cinta konon katanya kalau kita mendaki tanjakan ini tanpa berhenti dan menengok kearah belakang setelah kita pulang nanti kita akan mendapatkan pasangan sejati, but I don't know coz aku sendiri tepar,hehehe. . Pukul 11 kami sampai dipadang savana oro-oro ombo, tak lama kemudian kami sampai dipos bertuliskan plang oro-oro ombo, kami istirahat sejenak dan kembali meneruskan perjalan kembali. Pukul 11.50 kami berhenti sejenak untuk menunggu waktu sholat jumat masuk, dan pukul 12 kami melanjutkan perjalan kembali. Medan setelah melewati pos oro-oro ombo sudah mulai menanjak sehingga membuat kami agak kewalahan karena semenjak dari ranupane bisa dihitung kira-kira mungkin kami hanya melewati tak kurang dari lima tanjakan saja. Pukul 2.30 kami sampai juga dipos kalimati jalan menuju pos ini sudah mulai berpasir dan nampak puncak mahameru mengeluarkan asap wedus gembelnya yang membuat semakin angker saja gunung ini. Kami bertemu mas Nanung salah satu begundals pangrango juga, kami mengobrol dengan beliau, rombongan mas Nanung memutuskan untuk membuka camp didaerah arcopodo, dan tak lama kemudian rombongan beliau meneruskan perjalanan menuju arcopodo. Dan kami berpikir mungkin kami juga akan membuka tenda disana, karena mungkin jarak menuju puncak pada saat summit attack besok pagi tak terlalu jauh. Pukul 3 perjalananpun dilanjutkan menuju pos arcopodo, jalanan yang kami lalui tak menunjukkan bonus satupun yang ada hanya tanjakan-tanjakan curam dengan kiri-kanan jurang yang menganga. Pukul 4.30 kamipun sampai dipos arcopodo, namun kami tak melihat ada team mas Nanung disana. Dipos tersebut hanya ada kami dan 6 orang team dari jember, kami mulai membangun tenda dan tak lama kemudian hujan langsung mengguyur kedua tenda diarcopodo yang dingin, dan kamipun langsung merebahkan diri kami masing-masing dan tertidur satu persatu. Pukul 9 malam aku terbangun karena terganggu oleh bunyi orang masak didepan tenda kami, akupun langsung melihat keluar namun yang aku dapatkan hanya lampu minyak yang kami nyalakan sore tadi, tak ada apa-apa karena tenda teman-teman dari jember juga masih tertutup rapat, akupun mulai tidur kembali namun tak lama kemudian bunyi itu mulai kembali, akhirnya aku bangunkan Heni disebelahku, akhirnya kata dia masukkan saja makanan dan alat masak kedalam tenda, dan setelah itu tak ada lagi bunyi-bunyi tersebut. Pukul 11 malam kami bangun dan langsung menyantap makan malam kami, dan setelah itu kami mulai bersiap menuju puncak mahameru. Sabtu 19 may 2007 Pukul 1 pagi semua team sudah mulai bergegas menuju puncak untuk summit attack, jalan yang kami lalui sangat menanjak dan terus menanjak dengan kiri-kanan jurang yang curam mungkin lebar jalannya hanya cukup untuk satu orang saja. Pukul 2.30 akhirnya kami sampai dipos terakhir yaitu cemoro tunggal, kami isitrahat sejenak disana, dan melanjutkan perjalanan kembali. Medan yang kami lalui sekarang ialah pasir yang setiap kami melangkah pasti akan turun kembali sehingga tenaga kami harus ekstra ditambah lagi kalau ada batu-batu yang berjatuhan, kami harus ekstra siaga. Bintang menemani kami sepanjang jalan, aku telah melihat kurang lebih tiga bintang jatuh selama menuju puncak mahameru. Pukul 5 pagi kami sampai dipuncak mahameru yang sangat menakjubkan dengan jonggring salokonya. Matahari mulai terbit dari ufuk nan jauh disanan dengan perlahan, subhanallah indahnya, tak lama kemudian jonggring saloko mengeluarkan wedus gembelnya dengan mengeluarkan material percikan lahar indah sekali. Pukul 6 pagi kami turun menuju pos arcopodo kembali, jalanan yang kami laluipun kini semakin mudah karena kami tinggal berseluncur menuju pos cemoro tunggal. Pukul 8 Awil dan Heni sampai ditenda namun Anton dan Hanum telah sampai ditenda duluan sehingga makan pagipun telah tersedia. Tak lama kemudian mas Nanung datang ketenda kami tuk mengobrol dan bercanda ria, namun akhirnya mas Nanung melanjutkan perjalanan duluan menuju pos kalimati. Pukul 11.30 kamipun telah selesai packing dan bergegas menuju pos ranupane, dengan semangat kamipun sampai diranukumbolo pada pukul 13.30. Pukul 13.45 perjalanan dilanjutkan menuju pos ranupane jalanan yang kami laluipun sangat landai sekali.. Pukul 17.00 kami sampai diranupane kembali, melapor dan sambil menunggu jeep datang kami makan malam. Pukul 20.30 jeep akhirnya turun menuju pasar tumpang.. Pukul 22.00 kami sampai dipasar tumpang dan kami bermalam dirumah salah satu teman kami disana sambil menikmati jajanan malam pasar tumpang malang. Estimasi biaya : Jakarta - Malang (kereta) : Rp 55.000 Malang - Terminal (angkot) : Rp 2000 Terminal - Tumpang : Rp 5000 Tumpang -ranupane (jeep) : Rp 35.000 Tumpang - ranupane (truk): Rp 25.000
 | Evakuasi | Jun 27, '07 5:28 AM for everyone |
pada hari minggu siang saya dan anggota resimen gabungan pergi ke daerah jatinegara tepatnya didaerah santa maria fatima. saat itu tak ada satu tim pun dari teman2 resimen yang bergerak sampai akhirnya saya dan abang saya ditelfon tuk datang kedaerah tersebut,lalu kami pun sampai didepan santa maria fatima. kami pun akhirnya berusaha meminjam perhu karet untuk mulai mengevakuasi ,namun hasilnya nihil. malah kawan2 dari satpol.PP yang seharusnya mengevakuasi malah mengobrol di posko tersebut,tak tau apa yang diobrolkan atau sekedar mengatur rencana saja. kami pun akhirnya bergerak kedaerah banjir,di tengah jalan kami dimintai bantuan oleh seorang ibu yang menangis karena keluarganya tengah terjebak didalam rumah mereka. kami pun segera bergegas kedaerah tersebut,letaknya didalam gang yang terdapat tulisan madrasah didepan gang tersebut. sesampai digang tersebut air sangat deras sekali,karena didaereah tersebut dekat dengan akses kali ciliwung,terlebih tempat itu didalam gang yang menyebabkan arus semakin kencang. kamipun berusaha menyusun sebuah strategi namun karena terlampau cukup lama menyusunnya ketimbang kerjanya,akhirnya abangku dan akupun langsung mempunyai rencana sendiri. bermodal dengan ban seadanya saya dan abang saya langsung bergegas,dia sempat bertanya kepada saya,"wil gmana nih arusnya deras banget mau dicoba",katanya seperti itu. "mending dicoba dulu bang,kalau gak dicoba kita gak bakal pernah tau",kataku. akhirnya kamipun berenang melawan arus dengan bermodal dengan sebuah ban.akhirnya kamipun merayap2 dengan berusaha menggapai pagar2 yang sudah terkena banjir tersebut,kami sampai disebuah rumah yang masih terdapat korban disana,akhirnya kamipun memanjat kepagar lantai 2 tersebut,perkiraan debit air pada saat itu sudah di ketinggian 5-7 meter dari permukaan gang,akhirnya kamipun memprioritaskan ibu2 tersebut terlebih dahulu sebelum kami mencapai daerah tujuan yang berjarak kira2 20 meter dari lokasi. setelah mengevakuasi ibu2 tersebut dengan peralatan sederhana,kamipun segera bergegas lanjut kedaerah tujuan. akhirnya teman2 resimen pun baru terjun ke daerah tersebut sekitar 1/2 jam setelah kami,akhirnya kami memasang sebuah tali tambang di tiang listrik agar dapat menjadi akses kedaerah tersebut dikarenakan areus sangat2 deras. pada pukul 15.30 akhirnya baru ada tim evakuasi dari pencinta alam setempat yang memberanikan diri membawa perahu karet. evakuasipun akhirnya berjalan dengan lancar,kami membuat alat akses buat korban dengan seadanya,bermodalkan sebuah ban besar dan tali carmentel,akhirnya evakuasi pun berjalan sangat lancar. perkiraan sekitar 25-30 jiwa(terdiri dari 8 balita,ibu2,anak kecil,dan lansia) alhamdulillah dapat kami selamatkan sebelum air naik. kamipun selesai mengevakuasi pada pukul 19.30,dengan melakukan sholat ashar dan maghrib seadanya ditempat evakuasi,semoga allah menerima sholat kami dan menyehatkan para korban.
| |